Optimalisasi Potensi Anak Prasekolah

0
2

oleh: Nani Triani*)

Pengantar

Mengasuh anak bukan saja mempunyai arti merawat dan memenuhi segala kebutuhan fisik akan tetapi mengasuh anak adalah juga mempersiapkan anak untuk dapat hidup bermasyarakat. Proses ini dapat dilakukan di lingkungan rumah dengan orang tua melalui interaksi yang secara disadari atau tidak disadari dan diungkapkan melalui pernyataan-pernyataan verbal maupun non verbal. Keluarga sebagai tempat pertama dan utama dimana anak lahir, dibesarkan dan berkembang pada dasarnya memegang berbagai fungsi. Selama masa bayi dan kanak-kanak fungsi-fungsi dan tanggungjawab keluarga lebih terfokus pada mengasuh dan melindungi yang kemudian berangsur-angsur fungsi tersebut bergeser sesuai dengan bertambahnya usia.

Di lingkungan keluarga inilah, anak mendapatkan latihan dan binaan dari mulai berlatih cara makan, berjalan, bercakap-cakap dan lain-lain. Kemampuan-kemampuan tersebut mulai dari keterampilan yang sederhana sampai pada keterampilan yang lebih kompleks yang secara tidak disadari merupakan persiapan kearah pendidikan yang lebih formal yaitu Sekolah Dasar. Tindakan-tindakan orang tua seperti tersebut merupakan beberapa contoh pengasuhan yang diberikan orang tua kepada anak-anaknya. Setiap orang tua akan mengharapkan anak-anaknya ketika memasuki jenjang sekolah formal sudah memiliki kesiapan sekolah. Oleh karena itu banyak orang tua yang memasukkan anak-anaknya ke Taman Kanak-kanak atau club-club belajar terlebih dahulu dengan harapan ketika memasuki Sekolah Dasar nanti anaknya telah siap bersekolah. Di Taman Kanak-kanak atau club belajar para peserta didik diberi serangkaian program yang mengacu pada kurikulum yang berlaku dengan tujuan para peserta didik memiliki kesiapan sekolah di Sekolah Dasar. Namun bagaimana kenyataannya? Walaupun semua peserta didik mendapatkan program yang sama di Taman Kanak-kanak atau club belajar akan tetapi tidak semua peserta didik dinyatakan siap sekolah ketika anak menyelesaikan program Taman Kanak-kanaknya (dengan lama pendidikan satu tahun bagi anak yang sudah berusia lima tahun dan dua tahun bagi anak yang berusia empat tahun).

Beberapa kasus sering dijumpai pada siswa SD kelas satu, anak belum dapat berpisah dari ibu atau pengasuhnya sementara anak yang lain sudah dapat bermain dengan anak yang lain; belum mandiri dalam memilih kegiatan yang ingin dilakukan, dimana anak tampak takut atau ragu-ragu; tidak dapat melaksanakan tugas yang diberikan oleh guru dengan baik dan lain-lain.

Siapa Sebenarnya Anak Prasekolah/ TK itu?

Secara luas diketahui bahwa periode anak dibagi menjadi dua periode yang berbeda yaitu masa anak awal dan masa anak akhir. Periode awal berlangsung dari usia dua tahun sampai dengan enam tahun (lebih dikenal sebagai masa kanak-kanak). Dan periode akhir berlangsung dari enam tahun sampai tiba saatnya anak matang secara seksual (Hurlock, 1992). Yang dimaksud dengan anak prasekolah menurut Biechler dan Snowman (1993), adalah “mereka yang berusia antara 3-6 tahun, biasanya mereka mengikuti program kindergarten” .

Banyak sebutan yang diberikan kepada anak berusia 3 – 6 tahun ini. Orang tua menyebutnya sebagai “usia sulit” atau “ usia yang mengundang masalah”. Pada masa ini anak ada dalam masa proses pengembangan kepribadian yang unik dan menuntut kebebasan yang pada umumnya kurang berhasil. Oleh karena itu anak sering nampak bandel, keras kepala, melawan dan lain-lain. Karena berbagai masalah tersebut, maka bagi orang tua merupakan usia yang kurang menarik dibandingkan masa bayi. Ketergantungan bayi yang sangat mengundang kasih sayang orang tua , sekarang berubah menjadi anak yang tidak mau ditolong dan cenderung menolak ungkapan kasih sayang.

Sedangkan para pendidik, menyebutnya sebagai “usia prasekolah” karena pada masa ini anak baru berada pada tahap persiapan pendidikan formal di kelas satu. Dengan kata lain bahwa pada masa ini anak berada pada masa pendidikan “jembatan antara rumah dan sekolah”. Lain halnya dengan ahli psikologi, menyebutnya sebagai “usia kelompok”, masa dimana anak-anak mempelajari dasar-dasar perilaku sosial sebagai persiapan bagi kehidupan yang lebih tinggi yang diperlukan untuk penyesuaian diri pada waktu mereka masuk kelas satu. Selain menyebutnya 6sebagai “usia kelompok”, ahli psikologi menyebutnya juga dengan beberapa sebutan lain diantaranya sebagai “usia jelajah”. Istilah ini diberikan, karena pada masa ini anak-anak ingin mengetahui keadaan lingkungannya, bagaimana ia dapat menjadi bagian dari lingkungannya. Salah satu cara yang sering dilakukan anak untuk memenuhi kebutuhan jelajah ini adalah dengan sering bertanya tentang banyak hal. Oleh karena itu pada masa ini anak sering juga disebut sebagai “usia bertanya”. Pada masa ini anak juga menonjol dalam hal meniru pembicaraan dan tindakan orang lain. Oleh karena itu , periode ini dikenal juga sebagai “usia meniru”

Tugas Apa Saja Yang Harus Dikuasai Oleh Seorang Anak Prasekolah/TK?

  1. memenuhi kebutuhan biologis untuk perkembangan otot-otot besar & kecil
  2. belajar mengembangkan suatu system pengendalian impuls-impuls (:kapan pipis, makan dll)
  3. berpisah dengan ibu/ pengganti
  4. membentuk dunia baru dengan teman-teman sebayanya
  5. belajar menyatakan perasaan (:marah, senang, sedih, dll)
  6. belajar identitas jenis kelamin

Peran Orang Tua/ Guru Yang Bagaimana Yang Dapat Men-Stimulasi Optimalisasi Potensi Anak Prasekolah/ TK?

Keluarga sebagai tempat pertama dan utama dimana anak lahir, dibesarkan dan berkembang pada dasarnya memegang berbagai fungsi. Selama masa bayi dan kanak-kanak fungsi-fungsi dan tanggungjawab keluarga adalah mengasuh, melindungi dan sosialisasi yang kemudian berangsur-angsur fungsi tersebut berubah/ bergeser sesuai dengan bertambahnya usia.

Masa kanak-kanak merupakan salah satu periode yang sangat penting karena periode ini merupakan tahap perkembangan kritis. Pada masa inilah kepribadian seseorang mulai dibentuk. Pengalaman-pengalaman yang terjadi masa itu cenderung bertahan dan mempengaruhi sikap anak sepanjang hidupnya. Pada masa ini anak senang melakukan berbagai aktivitas seperti memperhatikan lingkungan sekitar, meniru, mencium, meraba dan lain-lain. Lingkungan yang “kaya” yang banyak memberikan rangsangan dapat meningkatkan kemampuan belajar anak.

Pada masa ini harus adanya rasa kebebasan dalam lingkungan untuk pengembangan fisik, mental dan pertumbuhan spiritualnya, karena dengan lingkungan yang kondusif memungkinkan anak bereaksi secara bebas dan mengembangkan dirinya.

Namun demikian, banyak orang tua yang cenderung merampas hak anak untuk bermain dengan mengejar prestasi akademik sehingga pengembangan pribadi anak secara utuh dan kemandirian terabaikan. Orang tua menuntut TK harus menyiapkan anak masuk ke SD dengan kemampuan lancar calistung (baca-tulis-hitung).

Begitu juga dengan guru, karena tuntutan lingkungan proses belajar mengajar berorientasi pada akademik (calistung). Belajar identik dengan duduk manis, memperhatikan guru dan mengerjakan serangkaian tugas ditambah dengan PR di rumah. Pendidikan di TK merupakan miniatur SD kelas I. Padahal banyak penelitian yang menunjukkan bahwa “ anak yang memasuki program TK dengan menekankan pada segi akademik memunculkan masalah kemampuan prilaku dibanding dengan teman sebayanya yang masuk dengan program yang berorientasi pada tugas perkembangan sosio-emosional”.

Permasalahan berikutnya, profil sekolah atau lembaga yang bagaimana yang dapat dipilih oleh orang tua/ guru? Sosok sekolah yang dapat dipilih tentunya adalah sekolah-sekolah yang antara lain memiliki program yang jelas baik program jangka pendek maupun jangka panjang, sekolah yang memiliki sarana dan prasarana yang cukup serta menerapkan pendekatan pengajaran yang individual (: pendekatan pengajaran yang menitik beratkan pada potensi yang dimiliki anak secara individu)

Penutup

Demikian paparan singkat tentang optimalisasi potensi anak prasekolah, semoga para orang tua dan guru dapat bersinergi dalam proses pelaksanaannya. Kita yakin bahwa kerjasama antar semua komponen dalam proses belajar mengajar MUTLAK diperlukan. Semoga Allah memberikan kemudahan kepada kita semua, amin!!!!!!!

Nani Triani, seorang guru Sekolah berkebutuhan khusus tinggal di Bandung

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here