Kumpulan Humor (1)

0
10

Untung Di Depan

Kang Ibro, menuntun sapi. Sesampainya di turunan jalan sebelum Pasir Gede, Kang Ibro jatuh lantaran ditubruk sapi yang dituntunnya.

“Untung saja saya yang di depan. Jika saya yang di belakang, sudah pasti saya yang menubruk pantat sapi!”. kata kang Ibro pada dirinya sendiri. (Mumunggang Pasir Gede KBB / kang HUWA)

Plastik Transparan

Nyai       : Sekarang musim hujan. Dalam kaitan tersebut, saya Jamin, kalau kang Ibro diminta memakai Jas hujan plastik yang transparan, dia nggak bakalan mau.

Neneng   : Lho! Kok begitu?

Nyai         : Soalnya, menurutnya, hanya kerupuk yang suka memakai Plastik transparan.

Neneng  : Hihihihihi ada ada saja! (Mumunggang Pasir Gede KBB / kang HUWA)

 “Pasti”

Seorang anak seusia kelas satu SD ditanya temannya tentang kenapa kapur itu Putih? Maka Ia pun menjawab dengan penuh kepastian, begini : “Sebab Kapur itu bukan Aspal!” katanya. (Mumunggang Pasir Gede KBB / kang HUWA)

 “Tidak Mengerti”

“Lho! Kenapa Akang termenung seperti orang kehilangan KTP!?” Kata Udin.

“Ah! Ng’gak.” Jawab Ibro.

“Lalu, kenapa?” tanya Udin lagi.

“Jangan bilang-bilang ke orang lain ya. Akang lagi kehilangan Kartu Tanda Penduduk, bukan  KTP” Jawab Ibro. (Mumunggang Pasir Gede KBB / kang HUWA).

Pekerja Film

“Kang! Di mana kerjanya?” Tanya Ibro.

“Di Perpileman. Tapi, di bioskopnya, bagian memutar Pilem,” jawab seorang lelaki  dengan logat ke barat-baratan.

“Oh! Kalau begitu Sama. Saya juga di Bioskop!” Kata Ibro.

“Bagian apa?” tanya si lelaki.

“Biasa! Bagian nonton!” Kata Ibro sambil memperlihatkan potongan Karcis yang sudah kumal. (Mumunggang Pasir Gede KBB / kang HUWA)

 

Pengungsi

Paras Nyi Esih dan kang Ibro bak Dewi Shinta dan Dewa Rama. Kendati begitu, mereka yang sudah berumah tanga 3 taun lamanya itu, belum juga dianugrahi keturunan.

“Nyi, sebagai pemancing, bagaimana kalau kita memelihara Burung Puter, jika dalam satu tahun belum juga mempunyai anak, kita ganti dengan memelihara Ayam?

Lalu, pada taun ke-dua hingga tahun ke-tiga masih belum dianugerahi anak, kita ganti dengan memelihara Kucing. Empat masuk tahun ke-lima tetap tidak punya  anak juga … “ Ibro terhenti bicaranya, karena terpotong bentakan Nyi Esih yang berkata, begini :

“Kita jadi pengungsi di kebun binatang, iya begitu?!” Kata Nyi Esih sambil menjatuhkan tubuhnya keatas kasur yang dilanjut dengan menangis. (Mumunggang Pasir Gede KBB / kang HUWA)

Batal

“Anakmu jadi ikut audisi Artis Dangdut Nomer wahid 2018 ?” Tanya Udin.

“Batal!” Jawab Ibro.

“Apa alasannya hingga dibatalkan?” Tanya Udin lagi.

“Sakit Gigi!!!” Jawab Ibro sambil berlalu.

Mendengar jawaban dari Ibro seperti itu maka Udin pun hanya mampu manggut-manggut. (Mumunggang Pasir Gede KBB / Kang HUWA)

Tidak Lulus

        + Anakku tidak lulus testing sepak bola U/11.

_  Apa Sebabnya tidak lulus?

+ Giginya ompong.

_ Lho! Apa hubungannya Gigi dengan sepak bola, memangnya mau tinju begitu?

+ Hihihi seperti Tison dulu ya! (Mumunggang Pasir Gede KBB / kang HUWA)

Audisi

“Kang! Mau kemana kah?”

“Audisi!”

“Audisi apaan tuh?”

“Artis Film!”

“Kenapa kostumnya seperti Anak yang mau disunat?”

“Iya! Khan sebelum audisi, saya mau disunat dulu!”

Tidak begitu lama antaranya, yang mengaku mau audisi itu sudah kembali lagi.

“Kenapa sudah kembali lagi?”

“Ng’gak jadi audisinya juga. Sebab, bengkongnya ng’gak datang, konon lagi nyunatin dana sosial”  (Mumunggang Pasir Gede KBB / kang HUWA)

 “Nggak Kudu”

-Serasa nggak punya uang, tapi nggak ada dikantong.

+Iya! Sama, saya juga serasa belum makan tapi lapar!

– Kalau begitu bagai mana sekarang kita seharusnya?

+Ya! Kita melamun saja supaya serasa punya uang dan tidak lapar.(Mumunggang Pasir Gede KBB / kang HUWA)

 “Pas”

Pada suatu malam, disaat Ibro dan Udin bertugas meronda.

“Tengah malam begini, pasnya ngapain ya?” Tanya Udin.

“Tidur!” Jawab Ibro, tegas. (Mumunggang Pasir Gede KBB / kang HUWA)

 “GedeRasa”

“Dahulu! Kalau kita makan di warung, kenyang dulu baru bayar. Sekarang, bayar  duluan kenyangnya belum karuhan.” Begitu kata Jumhi membuka obrolannya dengan Udin dan Ibro.

“Kayanya, itu merupakan akibat adanya oknum konsumen yang sering makan di warung, tapi tidak mau membayar atas apa yang dimakannya!” Jawab Udin sambil melirik ke arah Ibro.

“Kenapa kamu bicara sambil melirik ke saya, seperti yang menuduh saja?” Kata Ibro sambil melotot ke Udin dan Jumhi.

Mendengar seperti itu, Udin serta Jumhi serentak meninggalkan Ibro. (Mumunggang Pasir Gede KBB / kang HUWA)

 “Hanya Karena”

Nyai     : Walau pun hujan deras juga, kalau yang nyuruh istrinya, kang Ibro pasti mau pergi kewarung untuk belanja.

Ujang      : Bukan karena sang istri yang nyuruh kang Ibro mau ke warung. Tapi, karena yang mau dibelinya hanya terasi. Coba, kalau disuruh beli mobil mana mau kang Ibro pergi, ya dari mana dia punya duit buat beli mobil” (Mumunggang Pasir Gede KBB / kang HUWA).

 “HP Jaman Now”

-Kang! Mau beli HP, fiturnya lengkap. Bisa Internetan, Facebook, Games, MP3, Radio dilengkapi juga dengan TV.

+Ah! Kalau ada Kulkas-nya sih, saya mau beli. (Mumunggang Pasir Gede KBB / kang HUWA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here