Meski Lulusan SD, Pria Asal Lembang Jadi Petani Teladan Asia Pasifik

0
11

DELEGASI dari Kementerian Pertanian di Kenya mendatangi Kampung Gandok, Desa Suntenjaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 28 September 2017. Mereka didampingi oleh perwakilan dari Food and Agriculture Organization of The United Nations (Organisasi Pangan Dunia) beserta Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Bandung Barat.

Kedatangan tamu dari Benua Afrika ke Kampung Gandok itu ialah untuk menemui seorang petani lulusan SD, Ulus Pirmawan (43) guna melakukan studi banding. Sebagai negara yang baru pulih dari konflik, pemerintah Kenya perlu memberdayakan petani dan melahirkan sistem pertanian yang baik untuk ketahanan pangan di negerinya. Ulus menjadi salah satu rujukan yang ditunjuk FAO untuk Kenya.

Bukan tanpa alasan pria kelahiran Bandung, 16 Februari 1974 itu dipilih. Ulus dianggap berhasil menciptakan kemandirian dalam pertanian, dari sektor hulu sampai hilir, termasuk dengan mengangkat nasib para petani di lingkungan sekitarnya. Selain itu, ada standard dan kestabilan hasil pertaniannya, serta meminimalisir kimia residu yang ada.

Alhasil, Ulus dipilih sebagai model farmer atau petani teladan oleh FAO. Dia direncanakan menerima penghargaan dari FAO pada peringatan Hari Pangan Sedunia di Thailand, 16 Oktober 2017 mendatang. Selain Ulus dari Indonesia, penghargaan serupa juga bakal diberikan kepada empat petani teladan lainnya di kawasan Asia Pasifik, yakni dari Afghanistan, Jepang, Nepal, dan Thailand.

Communication Specialist FAO Indonesia Siska Widyawati mengatakan, FAO memiliki lima strategi objektif ketahanan pangan, di mana Ulus dinilai dapat mewujudkannya. Ulus, kata Siska, juga telah membawa triple-win keuntungan bagi para petani dan keluarganya, serta kelompok tani. “Jadi kami itu punya yang namanya triple-win, peningkatan produksi, penambahan penghasilan petani, dan peningkatan nutrisi. Pak Ulus bisa memenuhi tiga kriteria itu,” katanya.

Dia menambahkan, pemilihan Ulus sebagai petani teladan juga berdasarkan rekomendasi dari Kementerian Pertanian RI. “Untuk menentukan Pak Ulus itu, kami bekerja sama dengan Kementan RI. Kementan kan yang lebih tahu, lalu merekomendasikan Pak Ulus. Setelah kami cek dan tahu kisahnya, Pak Ulus memang pantas mendapat penghargaan,” katanya.

Buncis Kenya Petani Lembang

Barangkali suatu kebetulan, komoditas unggulan para petani di Kampung Gandok ialah buncis Kenya. Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Wargi Pangupay yang diinisiasi oleh Ulus telah mengekspor buncis Kenya sejak 2015, minimal dua kali dalam seminggu ke Singapura. Sekali kirim, jumlahnya lebih dari satu ton agar biaya pengiriman lebih efisien.

“Makanya, orang Kenya itu bangga sekaligus heran, baby buncis atau buncis Kenya di sini malah lebih bagus dibandingkan di daerahnya,” seloroh Ulus. Selain buncis Kenya, sejak 1995 beragam sayuran dari Kampung Gandok juga telah dikirimkan ke supermarket di Bandung dan Jakarta, untuk memenuhi permintaan dari sejumlah perusahaan suplier.

Ulus menjelaskan, pemangkasan rantai distribusi hasil pertanian yang menihilkan peran tengkulak dapat membuat nilai jual sayuran lebih tinggi. Praktis penghasilan juga meningkat.

“Satu kilogram baby buncis itu petani bisa dapat untung Rp 5.000. Harga pokok produksi buat baby buncis paling Rp 6.000-7.000. Sekarang petani menjualnya Rp 13.000 per kilogram. Jadi bisa dihitung sendiri berapa keuntungannya,” katanya.

Selain baby buncis, sayuran lainnya yang dihasilkan Kampung Gandok di antaranya, ialah tomat, buncis, kol, brokoli, sawo, terong, dan cabai. Bagi para petani yang tergabung dalam Gapoktan Wargi Pangupay, Ulus menetapkan standard budidaya pertanian dengan membatasi penggunaan pestisida sebatas untuk memberantas hama.

“Contoh di bawang merah. Biasanya itu penggunaan pestisida kan setiap hari dalam penyemprotan. Padahal, kalau tidak ada hama, kenapa harus disemprot? Jadi kami lebih mengutamakan penggunaan pupuk kompos sebagai pupuk dasar, yang tanpa bahan kimia. Hasil uji labolatorium untuk semua yang kami tanam akhirnya lolos residu,” katanya.

Gapoktan Wargi Pangupay menghimpun sekitar 100 petani yang mengelola lahan pertanian seluas sekitar 100 hektare di Kampung Gandok. Selain itu, kemitraan tani juga dijalin dengan kelompok-kelompok tani dari Kabupaten Bandung, Sumedang, hingga Situbondo. (Sumber: Humas KBB). (Anas Nasikhin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here